Kamis, 30 April 2009

Ujian Akhir Nasional = Ujian Ajang Nyontek

April ini, bisa dibilang sebagai musim ujian untuk siswa seluruh Indonesia baik itu SD, SMP ataupun SMA/SMK. Saya sebagai seorang pelajar yang juga mengikuti ujian nasional masih merasa sangat was-was akan hasil ujian yang akan diumumkan pada bulan Juni minggu ke-2 mendatang. Harapan saya, kami se-kelas bisa lulus dengan nilai yang baik. Sebenarnya pengawasan tidak terlalu ketat, seperti masa try out (baca: ujian penjajakan). Padahal seharusnya pengawasan lebih diperketat karena ujian tersebut adalah ujian nasional bukan lagi try out.

Sebagian besar siswa, termasuk saya tidak pernah menolak untuk mendapatkan jawaban ujian sebelum soal ujian nasional dibagikan. Kita sebagai siswa, jujur merasa sangat terbantu jika mendapatkan bocoran jawaban UAN tersebut. Di beberapa sekolah, tidak termasuk sekolah saya, mendapatkan bocoran jawaban dari TIM SUKSES UAN di sekolah yang tidak ingin membuat siswanya menjadi insan yang luar biasa.


Berbagai media berita, mengabarkan kebocoran soal UAN terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Para pelajar harus rela dan berikhlas hati mengerjakan ujian nasional dengan pengawasan dari polisi. Serem banget, tidak terbayangkan mengerjakan ujian didampingi polisi karena palajar di sekolah tersebut ketahuan mencontek melalui sms. Ada juga pelajar yang rela membayar hingga 6 juta hanya untuk mendapatkan jawaban UAN hari itu, yang notabene belum tentu betul.


Hal seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pelajar pada umumnya adalah tindakan negative yang sebenarnya tidak patut ditiru. Saya menuliskan hal buruk tersebut di blog ini bukan untuk mengajarkan hal yang umumnya pelajar lakukan. Tujuan saya menuliskan ini, supaya banyak pelajar khususnya dan kalangan umum menyadari bahwa system pendidikan di Indonesia ini semakin miskin moral dan bobrok.

Pemerintah yang membuat rata-rata nilai UAN semakin tinggi, hanya akan membuat maraknya Ujian Akhir Nasional sebagai Ujian Ajang Nyontek yang dilakukan berjamaah. Harap itu bisa dijadikan koreksi bagi semua pihak. Tidak adil bila pembelajaran selama 3 tahun hanya ditentukan oleh beberapa hari saja. System pendidikan memang harus terus ditingkatkan, tapi alangkah lebih baik lagi bila pembenahan moral bangsa dilakukan terlebih dahulu.


Baca Selengkapnya......

Remaja, Recycle dan Reduce


Pada bulan Maret lalu, sekolah mendapat kesempatan untuk maju dalam tingkat yang bertaraf nasional. Lomba tersebut merupakan salah satu cara untuk remaja berpartisipasi aktif dalam penghijauan lingkungan, baik itu di sekolah maupun sekitarnya melalui recycle dan reduce (baca: daur ulang dan pengurangan sampah). Lomba Eco Youth, mendapat sambutan istimewa, khususnya dari anak KIR (Karya Ilmiah Remaja). Saya yang saat itu menjabat sebagai ketua KIR, mengajak partisipasi aktif dari semua siswa di sekolah.
Ada yang mendukung dan ada juga yang menolak, memang itulah kehidupan. Mereka yang mendukung, memang ingin dua tujuan utama yaitu sekolah bisa menang dan juga turut menghijaukan lingkungan. Ibarat pepatah, “Sambil mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Siswa yang menolak berterus terang kepada saya dengan mengatakan, “Dhik, untuk apa sih buat green house segala? Paling kalau lomba sudah kelar gak ada yang ngerawat lagi.” Saat itu saya berkata dengan pasti, “Karena sekolah kita cinta lingkungan green house itu pasti akan terawat.” Saya merasa waktu berkata seperti itu, saya sombong sekali.


Akhirnya saya kecewa dengan kata-kata yang telah saya ucapkan tempo itu, karena bisa dilihat yang terawat sewaktu masa lomba dulu, sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi, sehingga banyak gulma yang tumbuh disekitar tanaman lainnya. Sedih, bukan saya tujukan pada teman-teman KIR yang sudah tidak aktif seperti dulu semasa lomba. Melainkan rasa sedih itu saya tujukan pada diri saya sendiri, karena saya sudah tidak bisa lagi berdiskusi dengan teman-teman KIR seperti biasanya karena harus fokus pada ujian nasional. Sehingga mungkin banyak hal tentang penghijauan terabaikan.
Setelah ujian sekolah ini, ada tekad yang harus segera dilaksanakan. Tekad yang sudah dibulatkan sejak lama yaitu tetap menjadikan sekolah hijau dan menjadikan green house itu tetap terawat. Bukan lagi karena lomba, melainkan karena balas budi pada alam yang telah merawat kita, sampai kita masih bisa hidup dan berpijak pada bumi untuk hari ini. GO GREEN Indonesia!


Baca Selengkapnya......