Selasa, 25 Maret 2008

Kejahatan yang dilakukan oleh 2 anak SD


Sebelum ini saya selalu merasa bahwa anak kecil adalah manusia yang masih lugu dan tidak berdosa. Dan saya selalu senang bila berada di dekat anak kecil yang menurut saya sangat lucu. Tapi kejadian kemarin itu menyadarkan aku bahwa anak kecil tidak semuanya lugu malah banyak anak kecil saat ini terjerumus dalam hal maksiat yang menjadikan dirinya kejam.

Adikku, Yoseph adalah korban dari kekerasan yang dilakukan oleh anak kecil juga yang merupakan kakak kelasnya. Yoseph bukan tipe anak yang kalau dipukul langsung melawan, dia merupakan anak yang lebih sering diam, hingga aku sendiri tidak menyadari bahwa kemarin adikku bagian bawah mulutnya sudah memar karena bekas pukulan dan perutnya kaku karena ditendang.

Sebagai seorang kakak jujur aku tidak terima bila adikku sendiri diperlakukan sedemikian buruk. Kejadian ini bermula saat Yoseph memergoki Afi (baca : saudaraku anak bulik), mengambil uang Yoseph di eksel (baca : lemari bajunya). Afi adalah saudaraku yang juga merupakan kakak kelas Yoseph. Jadi tidak ada yang curiga padanya, tapi tidak taunya dia malah mengambil uang adikku. Dan saat adikku mengetahuinya dia malah dipukul dengan kayu yang tergeletak di depan rumah. Afi setelah kejadian itu takut lewat di depan rumah, tapi dia memang merupakan salah satu anak pengecut yang hanya berani berlindung dibawah ketiak temannya. Salah seorang temannya yang bernama Arif, memukul adikku sampai bibirnya berdarah. Padahal sebelumnya adikku tidak mengenal anak yang bernama Arif yang merupakan kakak kelasnya, teman sekelas Afi.

Kemarin Yoseph ke rumah sakit Karyadi buat di visum, lalu ibu meneruskan ke kepolisian. Tapi polisi malah tidak menanggapi dengan serius dan merasa bahwa ini hanya masalah anak kecil. Ibu tadi juga ke SD Bulu 02, buat bertemu dengan wali kelas Afi. Sebenarnya aku benci dengan yang namanya kekerasan. Aku sendiri saja tidak pernah memukul adikku, malah orang lain memukul dia sampai kayak gitu. Aku akan berusaha maafin anak kecil itu, walaupun sebenarnya sakit untuk memaafkan orang yang pernah melukai salah satu dari orang yang aku sayangi. Anak kecil adalah anak yang tumbuh dengan melakukan apa yang dilihatnya. Jika orang tua mereka sendiri berperangai buruk,jangan harap anak bisa sopan seperti anak keraton.

Hidup ini memang kejam, kejam dan tajam ....

Tajam...
Setajam silet...

Baca Selengkapnya......

Senin, 17 Maret 2008

EGP (Emang Gue Pikirin) merajalela Indonesia

Judul di atas bukan semata - mata ditujukan hanya pada Maia Ahmad dan Mei Chan sebagai orang yang mempopulerkan lagu tersebut. Lagu tersebut tampaknya merupakan simbol bahwa saat ini kebanyakan orang yang hidup di Indonesia pada umumnya atau warga Semarang pada khususnya lebih banyak berfikir egois. "Emang gue pikirin." Lagu yang benar-benar tidak mendidik moral secara baik malah menjatuhkan. Orang cenderung memikirkan diri sendiri tanpa melihat kondisi orang lain di sekitarnya. Seperti konsep SPA (Semarang Pesona Asia) yang diselenggarakan Agustus 2007 lalu. SPA hanya memikirkan "kepentingan orang mampu."

Kemarin saya mengendarai motor di Jalan Dr. Sutomo. Sewaktu lampu merah di samping Gereja Kathedral, saya melihat banyak anak jalanan berlarian sambil berkata, "Ada Polisi, satpam! Lari!" Kelihatannya itulah kata-kata yang mereka ucapkan. Walaupun akhirnya tidak ada satpam maupun polisi yang akan menangkap mereka,tapi phobia sewaktu bertemu dengan polisi dan satpam itu bisa dirasakan seumur hidup pada jiwa anak jalanan yang masih sekecil itu. Hal itu tidak akan terjadi jika KITA tidak berfikir secara egois. Kita harus memikirkan nasib sesama yang lebih membutuhkan.

NB : Saya menulis artikel ini , supaya bisa menyadarkan kita bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita saat ini, detik ini.

Baca Selengkapnya......

Rabu, 12 Maret 2008

Gie in memoriam

Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja, Hok Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Herman Lantang bertanya "Untuk apa semua perlawanan ini?". Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."
Masa remaja dan kuliah Hok Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Soe dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Soe juga sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Hok Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Soe untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Hok Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.
Tan Tjin Han, teman kecil Hok Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Hok Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Hok Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.
Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta

Baca Selengkapnya......

Selasa, 11 Maret 2008

Banyak hal telah terjadi

Waktu memang terus berjalan dengan membosankan. Hari-hari kayak biasanya, gak ada yang istimewa. Aku rasanya mulai bosan dengan hari-hari yang terus lewat. Ada satu temen lagi yang aku kenal dari SMK1 kendal namanya Lutfiah, panggilannya Lulut. Dia enak diajak ngobrol, pokoknya aku seneng aja dapet temen baru.
Aku bosan dengan rutinitas ini....
benar-benar sudah penat dan aku mau mencari jalan baru yang bisa aku tempuh.

Baca Selengkapnya......

Kamis, 06 Maret 2008

tentang sahabat

embun-embun menetes pada rumput-rumput yang menari
mobil-mobil berjalan dengan roda-roda yang saling mengejar
lampu-lampu kota berkelip menyaingi bintang-bintang
gedung-gedung mewah menjulang menandingi langit-langit angkasa
dimana kau kawan?
kita yang bercengkrama
dulu selalu bercanda untuk sekadar meneguk tawa
kini hilang sudah
kau lenyap
aku mencarimu...
mencarimu...
lagi... lagi...
dan terus menanti
daun-daun berguguran diantara pohon-pohon yang telah tumbang
kau tetap tak ada disini
aku sendiri
terus menunggu untuk kau kembali
seruan sahabat sejati
kita pasti bisa bertemu
tak tahu kapan nanti
aku menunggu kau sahabatku

Baca Selengkapnya......

Rabu, 05 Maret 2008

saat ini dan nanti

Kala dimana jiwa merenung
muram
memikirkan tentang dunia
hidup ini penuh....
kelam
kemunafikan
kebencian
keserakahan
keonaran
mereka yang ingin bergelut dalam rasa
awan hanya bisa mengikuti mentari yang yang mengiringi
hidup hanya fana tanpa asa
berdiri menanti cahaya baru yang menjadikan damai abadi
menanti hari dimana kita tak berpijak di bumi lagi
bermain dengan malaikat
dan tanpa ada jiwa yang merenung sendiri
semua abadi sudah

Baca Selengkapnya......

Selasa, 04 Maret 2008

Magang again....

Hari ini magang hari ke-2. Aku masuk siang pulangnya nanti jam 7 malem. Masih sama kerjaannya input data dan scan buku. KursusQ mulai besok tanggal 25 Maret jamnya 14.30-16.30, itu tandanya pulang magangku nanti jadi tambah malem. Kalau gak ya aku baru pulang magang jam 9 malem. Soalnya disini kursus yang diikutin itu di luar jam magang. Ada temen baru sekarang karena aku masuknya siang, namanya Zuhro dan juga Reni. sama kayak Titian (sorry kemarin aku bilang namanya Tizan) mereka itu anak SMK1 Kendal juga. Kalau magang rame-rame sih enak. Tapi nanti mereka udah selesai tanggal 15 Maret aku jadi sendirian. lonely deh...
Disini gak bisa buka friendster, jadi cakupan aku cuma sekadar blog aja.

Baca Selengkapnya......

Senin, 03 Maret 2008

Akhirnya magang

Postingku tadi barusan error aku jadi males nulis....
Hari ini pertama aku magang. disuruh scan sama input data, itu sih sebenarnya gak sesuai sama jurusanku. Oya aku kenalan sama anak magang baru namanya Tizan, dia anak SMK1 kendal. Rumahnya ya, di Kendal.
hari ini aku mau ke pameran buku di Sriwijaya. Kali aja aku bisa dapet bukunya Soe Hok Gie. yang "catatan seorang demonstran".
magang pertama rasanya biasa aja. Tapi enaknya magang disini aku dapet pelatihan jaringan gratis. Itu yang bikin seneng.

Baca Selengkapnya......